Cracked


Apabila kamu tidak ada tempat dalam bersenandung dengan luka yang lara, cobalah menuangkan tinta di dalam goresan putih untuk kamu isi tulisan manismu di dalam kertas itu. Terkadang semesta tidak memihakmu karena semesta ingin mengajarkanmu suatu fase yang ingin mereka sampaikan kepadamu. Goresan yang dibuat oleh orang terdekatmu memang paling sulit untuk disembuhkan, apalagi jika itu adalah keluargamu sendiri. Goresan itu bisa jadi menguburkan impianmu yang selama ini kamu pendam, padahal kamu tahu bahwa impian itu selangkah lagi akan menghampirimu akan tetapi kamu harus rela melepaskannya demi sebuah pengorbanan dalam lingkungan terdekatmu itu.
Jika memang semesta adil dengan kehidupan, seharusnya semesta memberikan kebahagain kepada setiap manusia yang ada di dalam ciptaan-Nya. Akan tetapi ternyata semesta menciptakan luka dan goresan yang mampu membekas dalam tubuh atau impiannya. Aku pun juga tidak mengerti tentang siklus kehidupan yang sedang aku alami. Aku sedang di fase kehidupan yang bertentangan dengan hidupku dan impianku, aku ingin sekali menolak dan kabur dari semua keadaan ini dengan mengakhiri kehidupanku. Aku ingin pergi menjauh dan tentunnya aku ingin membangun kembali duniaku.
Disini aku seolah terjebak dalam atmosfer kehidupan yang mendesakku untuk mengorbankan segala impianku, disini juga aku semakin kehilangan impianku. Aku ingin menggapai semuannya kembali, ketika aku ingin mengenggam impian itu. Mereka datang memberikan kabar untuk tidak perlu bermimpi dengan itu karena semua itu tidak akan terjadi di dalam kehidupanku dengan keadaan hidupku sekarang. Aku bersyukur dengan udara yang aku hirup ini, aku sangat bahagia menghirup udara dan menghembuskan rasa sesak hati ini.
Aku berfikir lagi tentang ucapan yang terlontar dalam mulut mereka tentang semua ini, aku hanya lelah dan aku ingin beristirahat sejenak dalam menghadapi kehidupan yang sama sekali tidak aku inginkan. Seolah semua ini hanya kejutan dan aku berharap ini semua hanya mimpi buruk diriku. Aku ingin terbangun seperti dulu. Memang terlihat egois, aku tidak ingin menerima fase luka ini. Aku juga lelah hanya bisa memperluas nasi putih daripada lauk untuk kehidupanku selama ini.
Akupun terkadang iri dengan manusia yang mampu melewati semua ini ada orang yang membantunya untuk bangkit. Aku? Bukan tidak ada, tapi aku menghindar apabila menebar lukakku bersama orang lain. Aku pernah mengadu sesuatu rasa kegelisahanku, dia pergi setelah mendengar luka ini. Aku tidak tahu harus bagaimana menjalani hidup ini,  yang aku tahu tentang semua ini. Aku harus menyimpan rasa luka perih ini dan harus dikunci rapat, sebisa mungkin aku membuang kunci itu agar akupun tidak bisa membuka luka itu.
Setiap aku datang dan menginjakan kaki di dalam rumah putih, berkeramik hijau ini. Aku selalu mendengarkan kalimat negative yang terlontar dalam setiap kata di dalam penghuni ini. Aku selalu berharap ketika menginjakan kaki di sini aku bisa memberikan space pada hati dan pikiranku untuk henti sejenak. Semenjak kejadian tahun lalu, rumah ini menjadi tempat yang tidak nyaman untukku. Tapi, aku tidak bisa lagi untuk pergi.




Komentar