Menghela nafas

Terluka merupakan salah satu fase hidup yang akan dilewati oleh setiap individu. Kecewa merupakan suatu hal yang akan selalu dijumpai oleh setiap manusia yang sedang berinteraksi dgn manusia lain.
Kehidupanku berubah semenjak aku menginjak dunia perkuliahan, dunia yang aku anggap akan aku habiskan dengan senang dan membahagiakan terganti oleh waktu yang hanya di isi oleh kekecewaan, pengkhianatan, ekonomi keluarga anjlok, kehilangan sebagian diri sendiri.
Aku tidak tahu, apakah memang jalan takdir yang akan aku lalui seterusnya bakalan seperti ini. Setiap detik,menit dan hari aku habiskan hanya untuk orang lain dan hanya sedikit waktu untuk diriku sendiri.
Aku juga tidak tahu, apakah perilaku ini sudah menular dari sifat bapakku yang mempunyai perilaku seperti itu?
Kuhembuskan nafasku dalam² lalu aku keluarkan dengan perlahan-lahan,ku rasakan rasa hangat yang keluar dr hembusan tadi membuatku lega apabila aku sedang memikirkan nasib hidupku.
Aku menyimpan segala sesuatu hanya dengan fikiranku, aku tidak berani mengumbar permasalahan apa yang aku hadapi kepada orang lain. Kalian tahu, apabila aku ingin cerita aku selalu berfikir dampak apa yang akan terjadi apabila aku menceritakan kisah hidupku.
Baru beberapa hari lalu, aku menceritakan kisah hidupku kpd salah satu sahabat baikku. Respon yang selalu aku takutkan ternyata keluar dari mulutnya. Respon yang menjelaskan bahwa aku terlalu kuat menjalankan kehidupan ini, dia menjelaskan bahwa aku adalah kuat dll.
Bukan itu respon yang aku inginkan, respon yang aku inginkan adalah respon kehangatan. Kehangatan yang selalu aku ucapkan kpd teman²ku apabila mereka sedang dalam permasalahan yang mereka hadapi..
Hal yang selalu aku takuti dalam menjelaskan masalah ini adalah mereka tidak mau mendengarkan keluh kesah ku dan mereka pergi .
Ah sudahlah, aku juga tidak peduli.
Kita kembali ke kisah awal saja, kehidupanku di masa kuliah begitu sangat wow. Aku tidak habis pikir, ibu dan bapakku memberikan uang saku 50.000 selama seminggu itu untuk bensin, kuota, print dll.
Aku tidak tahu caranya untuk marah kepada mereka bahwa keadaanku yang selalu terhempit dr segala apapun. Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada mereka tentang keadaan anaknya ini.
Aku rasa diriku ini kurang bersyukur, aku hanya memendam ini sendiri. Aku tidak melihat temanku yang jauh menderita daripada aku. Mereka lebih kuat sekali sungguh teman kuliahku mereka memiliki kehidupan yang luar biasa.
.
.
Kuhembuskan nafasku lagi huuuuf begitulah kiranya suara dr nafas yang keluar dari mulutku. Aku hanya bisa menangis sendiri dan aku hanya bisa melupakan sejenak ketika memejamkan mataku untuk membuat kisah baru di mimpiku.
Aku tidak tahu, bagaimana kisah yang dijalani oleh kakakku. Dia selalu menuntut ku dalam keadaan yang sebenarnya aku ingin mati, dia hidup dimana keadaan keuangan masih sehat walaupun sebenarnya dalam ambang batas aman. Dia jauh lebih beruntung daripada aku, aku hanya iri. Mengapa ini terjadi kepadaku?
.
Bolehkah aku meminta satu permintaan yang segera dikabulkan?
Aku meminta, kuatkan ibu dan ayahku untuk menjalankan hidup ini. Ijinkan mereka bahagia seperti teman-teman mereka, aku kasian dgn mereka. Mereka berhak bahagia, mereka berhak memiliki masa tua yang bahagia, mereka sering terluka oleh keluarga besar dan tetangganya. Mereka sudah baik dgn banyak orang, ijinkan mereka mendapatkan ganjaran dari setiap kebaikan nya.

Komentar