Tiap kehidupan manusia, mengalami fase dimana dia harus hidup tanpa pegangan orang lain. Terkadang manusia juga menjadi lupa ketika dia harus menjadikan dirinya lebih baik. Di masa kuliah ini, aku merasa bahwa sesuatu yang tidak penting tidak perlu dilakukan. Akan tetapi, bentrok dalam diriku sering terjadi karena aku selalu memaksa diriku untuk terjun disuatu hal yang tidak pernah aku sukai bahkan aku paling benci. Semenjak kuliah ini juga, seluruh keterbatasanku mulai datang kembali. Keterbatasanku yang datang ketika aku masih duduk di kelas VII, yang membuat aku harus nyaman berteman dengan tiap individu dimana sebenarnya aku sama sekali tidak menyukai mereka. Yah, tentunya hidup perlu bersosialisasi bukan ?
Ada hal yang membuatku semakin sesak dalam menjalani kehidupan, semakin hari aku merasa bahwa kehidupan itu berarti apabila ketika aku sedang mengikuti komunitas yang aku senangi seperti Jendela Jogja. Aku masih ingin kontribusi disana, akan tetapi kenapa aku selalu kalah dengan rasa rinduku di Rumah. Aku sebenarnya sudah merasa muak dengan kehidupan di Jogja. Aku nyaman di kos, tapi aku tidak nyaman di Kota yang katanya istimewa ini dan Kampus yang semakin hari, semakin banyak noda yang aku liat.
Setiap aku menghembuskan nafasku, aku merasa apa yang harus aku lakukan agar aku mampu memperbaiki ini semua. Sebenarnya ada, tapi aku sama sekali tidak ingi mencobanya. Aku sama sekali tidak bisa jauh dari wajah putih Ibukku dan wajah Hitam bapakku. Mereka membuatku selalu jatuh cinta ketika melihat mereka sedang tertidur, hari demi hari aku selalu berfikir. Apakah aku akan mampu membahagiakan mereka ?
"Hidup itu palsu nafisa, jika kamu mempunyai keinginan lalu Allah mengambulkannya kamu akan merasa bahwa kamu belum mampu, bahwa semua itu tidak artinya. Manusia itu ladangnya nafsu, Manusia itu ladangnya kesombongan, Manusia itu ladangnya Cemburu Sosial " tutur Ibu kos yang sedang menjelaskan kehidupannya yang liku-liku sambil matanya berbinar-binar.
Setiap hari, aku mendengar suara anak SD Muhammadiyah Demangan di dekat kosku. Mereka selalu bernyanyi dan terkadang apabila aku mendengar mereka sedang mengejek satu dengan yang lain, ahh sayang sekali ternyata aku sudah menjadi maha dalam mencari ilmu yang tak terbendung luasnya. Lucunya kehidupan ini, ketika individu memiliki rasa ingin memiliki bertahun-tahun individu tersebut berharap agar mempunyai apa yang dia inginkan. Lalu Allah SWT, mengabulkan keinginan individu tersebut awalnya memang bahagia karena apa yang di inginkan akhirnya datang juga. Tapi ketika sifat manusia datang yaitu rasa bosan, individu cendrung menyepelekan apa yang telah dia punyai. Hahahah dasar manusia
Cukup dulu ya cerita yang hiperbola ini. "Selama kita masih bernafas, selama kita masih mampu berdiri sendiri. Rejeki Allah akan selalu mengalir ditiap nadi kehidupanmu" nasehat dari perempuan paruh baya berwajah kuning langsat--IB

Komentar